Sabtu, 08 Oktober 2016

AJARI AKU MENGGUNAKAN PENA



Ajari Aku Menggunakan Pena
Penamu begitu tangguh
Menuliskan segala kebenaran
Tentang kabar alam yang terus berdatangan
Tentang kondisi dunia yang saling bergunjingan
Dan aku tak mampu
Aku tak mampu mengangkat pena layaknya dirimu
Menggoreskannya pada lembar kosong
Yang selanjutnya menjadi karya indah pembuka cakrawala
Mengemas puing-puing sampah kata
Yang menjadikannya seuntai kalimat yang nyaman dirasa
Sekali lagi
Aku tak mampu sepertimu
Yang ku tau hanyalah sebongkah imajinasi
Yang hanya mampu ku toreh dengan gaya konyol milikku
Maka
Ajari aku menggunakan pena
Akan ku tulis ke percik embun
Udara dingin,
Kabut senja,
Hingga daun gugur
Agar dunia tau
Bahwa dirimulah manusia hebat itu
Agar penduduk langit pun mendengar
Bahwa dirimulah mutiara yang selama ini terpendam

Jombang, 4 Oktober 2016

DARAH MADURA-KU



Darah Madura-ku

Tak ada yang indah dari siang itu
Pancaran mentari dengan garangnya membakar pertiwi
Fatamorgana dengan eloknya menari tiada henti
Tak juga dengan perasaanku
730 hari menjalani cerita baru
Tak lantas membuat tangan ini bebas menerima
Sakit,
Tertekan,
Luka,
Perih,
Semua itu justru menjadi teman yang setia sepanjang harian
Namun,
Tak pernah terduga
Siang itu pula
Mentari menyingkap rahasia eksotisnya
Sosokmu hadir kala itu
Membuka pintu hati yang selama ini tertutup
Menarik senyum yang selama ini sempat terbungkam
Hebat
Ya, kamu hebat
Ku kira dirimu tak berbuat lebih
Hanya diam di seberang
Berbicara dengan kepentingan
Dan tertawa riang dengan ketulusan
Sungguh indah
Dan keindahan itulah yang mampu mengalihkan duniaku
Dunia yang selama ini tak pernah tersentuh
Tersudutkan karena satu alasan nyata
Dan dirimu mampu menepis alasan itu
Alasan kuat
yang tak satu pun mampu merobohkannya
Dirimu hadir
membawa sejuta perubahan
melunturkan seonggok ketakutan
dan memupuk seuntai keyakinan
Karena ku tau
Kaulah pemberani itu
Darah Madura-ku
Jombang, 6 April 2016

TANAH SUCI KITA



Tanah Suci Kita

Rinai mentari siang itu mendadak memudar
Terganti arakan awan gelap
Dan pendar cahaya
Yang sejenak membentuk garis nyala 

Tetesan air Rahmat itu belum juga beranjak
Kala lini senja menyapa dunia
Hingga tak ku temui semburat jingga
Yang membuat senja terkesan indah
Dan memanjakan mata

Pandanganku beredar
Ke arah di mana sang surya bersemayam
Karena ku yakin
Sosokmu ada di sana

Aku tak pernah tau
Sedang apa dirimu detik itu
Yang jelas
Di balik tirai hujan ini aku berbisik lirih
“Engko’ kerrong ka be’nah”
Cukup deret kalimat itu yang fasih ku rangkai
Deret senada bahasamu
Yang membuat kita kontras
Jelas berbeda

Tapi
Tanah suci ini mempertemukan kita
Menyatukan perbedaan kita
Dalam satu wadah berwujud saudara
Ya, kita saudara di tanah suci kita
Jombang Beriman

Jumat, 07 Oktober 2016

Tentang Kamu dan Aku

Malam kali ini tak seberapa menampakkan cahaya indahnya
Tak ingin menemaniku mungkin, 
Hamparan cahaya bintang sedikit meredup
Sendiri
Berbaring diantara kawasan berumput basah terkena bulir hujan,sore tadi
Sejuk membuatku ingin terlelap lebih lama di rerumputan ini. 
Apalah daya, 
Lamunanku terbuyar akan sebuah suara sumbang yang memanggilku
Kembali ke dalam dunia nyata, 
Inginku terbaring kembali sejenak
Menghembuskan nafas sesak dalam dada yang ingin ku lepas begitu saja
Menutup mata jenak
Melupakan apa yang telah terjadi, tanpa bisa dimengerti
Sajak yang dulu kuukir, 
Sajak yang mungkin dulu ku ucapkan, 
Terhapus memori tanpa meninggalkan bekas begitu enaknya,

Kini,
Aku terbangun diantara hamparan air hujan 
Mencoba memutar otak, 
Mencoba bangkit dan ternyata aku terluka. 
Hunusan pisau tajam milik siapa ini ?
Menusuk dalam organ tubuh ini. 
Mati rasa, tak bisa lagi kembali mengingat apa yang terjadi

Satu yang pasti,
Hal terindah tentang hujan
Memori tentang rerumputan basah itu
Kembali berputaran kembali di otak yang mungkin akan berhenti 
Karena hunusan pisau

Lemah
Permintaan terakhir sang petuah

"Pangku aku dalam pangkuan hangatmu.Meski itu dalam imajimu. "


_merindukan malaikat tanpa sayap_ 


Kamis, 06 Oktober 2016

Jawaban Hati

Aku tak pernah memahami apa yang telah terjadi saat ini,
Ketika senja tak lagi ada menjemput semua resah
Menjadi saksi diantara berjuta pertanyaan yang berputar di kepala
Bergeming diantara sudut pintu rindu yang terbuka hanya separuhnya.
Apakah ada yang salah ?

Dua tahun yang menjadi saksi perombakan hati
Bertanya dalam hati kecil,
Apakah mampuku bahagiakannya ?
Terkadang jauh kupandang wajah indah itu.
"Hei, kenapa kau menoleh kepada yang lain jika ada diriku ini." a
Berontak sang perasaan kecil.
Apalah dayaku,saat kau mulai menikmatinya

Menjadi yang terbaik itu sulit,
Delapan lembar tulisanmu yang kuselipkan di antara berkas kuliahku.
Yang kini mulai kubaca kembali,
Iya, kubaca itu semua
Airmata ini tak ingin berhenti menetes dikelas senja kala itu, dan kukatakan pada temanku
"Betapa bahagianya diriku,bisa membahagiakannya. Membuatnya nyaman dengan seluruh lelucon dan menjadi sandarannya kala ia butuh dan merasa tersakiti. "

Untukmu aku bertahan,
Lantunan doa yang terbaik untukmu saat kumulai jauh
Berharap kau bersama dengannya dan menjadi yang terbaik.
Kalian bersama untuk dapat saling membimbing menuju Jannah-Nya

Aku disini.
Berharap tak melupakan semuanya dan tak ingin pula dilupakan
Apalah dayaku, merpati kecil yang mungkin sinarnya akan mulai memudar
Kembalilah.
Karena aku akan tetap menunggu dan akan memeluk erat semua lelahmu,

Kembalilah,
Ku rindu suara dan gelak tawa mu.








Kamis, 21 Juli 2016

Teruntuk malaikat tanpa sayap

Teruntuk yang kusayang
Teruntuk malaikat, mamaku
Teruntuk Hanum Nurrikatus Sholihah
Mujahidah, di tanah rantau.

Apa kabar dirimu?
Lama tak bersua kembali,
Bahkan, tuk menghiburmu ku tak bisa

Aku ingin kembali,
Bukan hanya untuk menghiburmu
Tapi tuk membahagiakanmu
Aku ingin.

Senja disini seakan-akan mengejekku
Mereka tertawa atas kesendirianku,
Kesakitan,
Sungguh. Aku ingin kembali
Ke dalam pangkuanmu.

Sehari tanpa kabarmu,
Semoga aku kuat.
Sekuat dan setegar dirimu tanpa pesan darinya
Sungguh,

Kali ini aku tak ingin terjatuh
Tak ingin lihat dirimu terluka,
Jaga dirimu

Mungkin aku hanya bisa merindu
Semua panggilanmu
Maafkan merpati kecil ini
Kini ia tak lagi dapat terbang menjemhput
Impian sang malaikat,