Sabtu, 08 Oktober 2016

SURAT KECIL UNTUK TUBAN



Surat Kecil untuk Tuban

Teruntuk Bumi waliku
Yang ku rindu
Ku tulis surat kecil ini
Lantaran gelisah, resah
Dan entah rasa lain apa yang singgah
Mungkin karena rindu
Atau karena geram
Lantaran tak kunjung bertemu
Di sudut kotamu
Mata ini mulai membuka
Menyapa dunia
Nafas ini berhembus lega
Seakan siap menantang cakrawala
Seiring usia yang terus berlari
Hati mengantarkan kaki
Untuk berhijrah pergi
Meninggalkanmu
Menuju tanah orang nan jauh
Tapi
Sekali lagi
Tak ada sebersit pun rasa terlintas
Untuk melupakanmu
Melupakan bumi waliku yang teduh
Keburukanmu mungkin lebih dikenal
Dibanding nilai baik yang kau miliki
Tapi
Pemimpin sholih itu
Telah berhasil menjunjung
Dan membuat namamu menjadi lebih berarti
Tetap jayalah
Wahai bumi waliku
Bersama keharuman makam wali
Yang terkubur di kedalaman perutmu
Yakin
Terdapat keramat luar biasa
Yang akan membuatmu lebih bermartabat
Dibanding masa yang telah silam
Jombang, 9 Oktober 2016



SANG MATA ELANG



Sang Mata Elang


Bagai elang marah
Yang siap menerkam mangsa
Itulah mata itu
Tajam
merah
Bercahaya
Tapi sulit lepas dari ingatan
Takut
Ya, mata ini tak berani menatapnya
Tapi jujur
Tak bisa dipungkiri
Rindu ini terpaku pada mata kejam itu
Dan pendar cahaya di balik retina yang ada
tak setajam pandangan yang terpancar
tulus
lembut
dan
menenangkan
tak disangka
fajar berkabut
terselimut mendung
di batas kota kala itu
mata ini menatap lekat ketajaman mata milikmu
dekat
sangat dekat
bagai tanpa jarak
hanya hembus nafas yang sedikit memberi jeda
tanpa disadar pula
degup nadi ini berlaju kencang
sekencang desiran darah berarus kuat
dan aku sadar
kerinduanku
telah terjawab
pagi itu
dengan bertemunya pandanganku
pada mata elang
tercintaku
Jombang, 7 Oktober 2016


GUBUK JELMAAN MIMPI



Gubuk Jelmaan Mimpi

Sirnanya mimpi indah itu
Membuat diri ini terdampar
Di suatu lembah
Yang tak seorang pun rela singgah
Bagaimana mungkin aku mampu bertahan
Dengan hantaman angina kejam
Yang terus menghujam
Bagai terhujani jutaan batuan
Tanpa perlindungan
Tanpa pengayoman
Tanpa pula tangan yang rela terulurkan
Hampa
Semua membosankan
Jikalau hati ini telah mati
Jikalau akal ini telah berhenti
Sementara naluri masih merasa persis
Bahwa terdapat padang terindah di depan mata
Di depan langkah
Yang entah pada hitungan ke berapa
Keindahan itu dapat ditemukan
Yang jelas
Hati dan akal ini masih hidup
Dan bersama naluri yang belum redup
Ia akan terus berjuang
Sampai pada akhirnya
Kaki ini singgah
Dan merasakan nikmatnya sebuah gubuk
Jelmaan mimpi terindahku

Jombang, 7 Oktober 2016