Rabu, 18 Januari 2017

SEPUCUK SURAT UNTUKMU, SAHABATKU



SEPUCUK SURAT UNTUKMU, SAHABATKU…

“Ambil kantong plastik itu ukhty[1], buat mengantongi sepatu kita,” teriak sahabatku di tengah gelapnya gemuruh rinai hujan.
“Kita singgah sholat ashar dulu ukhty, takutnya nanti sampe rumah waktunya sudah habis,” sela sahabatku ketika kita berjalan melintasi masjid.
“Ukhty, besok main ke rumah ya, ditunggu sama Ibu.”
Suara-suara itu. Ya, di balik cahaya purnama malam ini, aku mengenang masa itu. Masa di mana kita selalu bersama, menggugah keramaian dunia, menantang cakrawala dengan asa di genggaman tangan kita.
Pagi itu mentari tersenyum sumringah, seakan ingin menghibur jutaan makhluk di belahan bumi dengan kemilau sinarnya. Namun, tidak untuk aku dan teman-temanku. Pagi ini juga, pesta perpisahan kita digelar. Acara berjalan khidmat, hadirin terlihat tenang. Sambutan perwakilan siswa kelas XII SMA Negeri Surakarta, sambutan kepala sekolah, ketua yayasan, semua terlewati sudah. Namun tangis membuncah saaat tim paduan suara mendendangkan lagu-lagu melankolisnya. Seakan bah air mata sedang singgah di sekolah yang masyhur dengan kualitas siswanya di bidang scientice ini. Semua terasa terlihat lemah, kalah dengan keadaan yang akan memisahkan tembok kenangan yang telah terbangun semasa sekolah.
Tak lama sudah, ada secercah senyuman di balik rinai air mata kesedihan, saat dengan lantangnya wakil kepala sekolah mengumumkan 10 siswa terbaik. Dan empat di antara sepuluh itu adalah kita. Aku dan ketiga sahabatku.  Setitik kebahagiaan itu hadir meski tetap dengan iringan air mata.
Dari sinilah semua berakhir. Persahabatan yang selama ini kita bangun seakan benar-benar telah terkalahkan dengan perubahan sikapnya. Dianggap benci, tidak mungkin, dia sahabatku. Tapi yang dirindukan tak pernah merasa. Keterlaluan!
Ku tanyakan kabar tentangnya. Nomor ponselnya masih aktif, masih sama seperti nomor yang dipakai ketika SMA. Tapi tak pernah ada satu pun sms balasan ketika aku mengirim satu pesan ke nomor ponselnya itu.  Panggilan pun terasa diabaikan. Aku mulai bosan dengan perkataan orang di seberang. Nomor yang anda tuju tidak dapat menerima panggilan anda, cobalah beberapa saat lagi. Tuut,,, tuutt,,, tuuuttt. Bahkan yang paling menyakitkan. Ketika jelas-jelas dia sedang online di facebook, kiriman pesan dariku tak pernah sedikit pun tersentuh oleh tangannya. Benar-benar membuat geram!
“Mawar, sudahkah kamu tau tentang keadaannya di sana?”
“Entahlah Yasmin, capek aku.”
“Aku sakit hati, masak teman-teman lain tanya padaku tentang dia yang sekarang telah berubah.”
“Berubah gimana maksudmu, Dahlia.”
“Kawan, tidak hanya kita yang diperlakukan seperti ini olehnya, dia yang dulu terkenal ramah dengan semuanya, mereka pun menjadi korban kecuekannya. Apalagi mereka semua pun tau tentang perilakunya di sana, bahkan cara berpakaiannya pun telah berubah.”
“Benarkah? Dari mana mereka tahu?”
“Banyak, ada di postingan facebooknya.”
“Bener-bener sudah melampaui batas dia.”
Kita kembali merenung, disibukkan dengan pikiran tentang satu sahabat yang telah jauh dari pandangan. Rintik gerimis tak henti-hentinya membasahi bumi yang kami injak, membuat suasana semakin mencekam perasaan. Antara benci, gamang, dan sayang.  
Surakarta mempertemukan kita. 6 tahun di masa biru dan abu-abu putih yang menyelimuti kita. Tapi, pesta perpisahan pagi itu, seakan mengakhiri semuanya. Kini, kita dipisahkan tidak hanya oleh batas kota tapi jutaan samudera membentang di antara kita. Aku sekarang berada di Sumatera, Mawar ikut orang tuanya ke Kalimantan, Yasmin tetap berada di Jawa, dan Dara, dia melanjutkan studinya ke Sulawesi.
Dari dulu perbedaan memang sudah nampak dalam persahabatan kita. Sejak SMP aku, Mawar, dan Yasmin selalu sekelas, tapi tidak untuk Dara. Kita pernah sekelas hanya ketika kelas delapan. Bahkan, ketika SMA pun kita dibatasi oleh tembok jurusan. Kita bertiga ada di jurusan IPA. Sedangkan Dara, namanya tercantum bersama puluhan deret nama di jurusan IPS. Meski pertentangan selalu ada  di antara jurusan kita, tapi selama itu pula, kita mampu menepis perbedaan yang ada menjadi untaian Rahmat yang membuat setiap mata iri melihat kebersamaan kita. Tapi, kenapa kini semua jadi begini?!
Perpisahan memang menjauhkan jarak kita, tapi tidak untuk hubungan kita. Setiap saat kita tetap saling bertukar kabar. Via sms, facebook, bahkan sebulan sekali kita menyempatkan untuk melakukan telfon sambungan tapi hanya bertiga, bukan berniat untuk tidak menambahkan Dara dalam obrolan kami, tapi lagi-lagi Nomor yang anda tuju tidak dapat menerima panggilan anda, cobalah beberapa saat lagi. Tuut,,, tuutt,,, tuuuttt.
“Yasmin, ini siapa saja yang terhubung dalam obrolan kita?”
“Ya, Cuma kamu sama Mawar.”
“Lho, kok gk sekalian sama Dara.”
“Udah ku sambungkan, tapi tetap gk ada jawaban.”
“Sampai kapan dia akan seperti ini?”
“Buat planning liburan, yuk!”
“Kan, masih lama.”
“Biarlah, setidaknya kita harus kumpul sekalipun hanya setahun sekali.”
“Gimana kalau Dara gk mau ikut, kan jadi gk seru nanti jika cuma bertiga.”
“Kalau dia benar-benar gk mau ya memang keterlaluan, tapi kita husnudzan[2] aja deh, siapa tau nanti dia dapat Hidayah.”
Ha… ha… ha…
Gelak tawa itu tetap serenyah dulu. Hanya saja jumlah kita sedang berkurang tapi bukan untuk selamanya, hanya sementara. Kebersamaan kita sedang diuji dengan jarak dan sikap Dara yang kini telah berubah.
_11 Nopember 2014_
Assalaamu’alaikum ukhty…
Selamat ulang tahun ya,,
semoga tetep jadi yg trbaik buat semuanya,
Barakallah fii ‘umrik
Miss you so much ({}), Ukhty.                 
_Dahlia_

Aku mengirim sms di hari ulang tahun Dara. Sengaja ku cantumkan namaku, takutnya dia tak lagi menyimpan nomor ponsel yang kumiliki. Satu jam, dua hari, seminggu, tak ada satu balasan pun darinya. Bahkan ku titipkan salam untuknya lewat temanku yang sekampus dengannya. Yaa Rabb, apa yang terjadi dengan sahabatku yang satu ini.
Malam ini, kita kembali disibukkan dengan obrolan lintas pulau, tetap bertiga.
“Yasmin, kamu udah ngucapin?”
“Nggak, males, ngapain juga, dia aja udah gk ingat sama kita.”
“Eh, jangan ngomong gt donk,,, dia sahabat kita.”
“Ngucapin apa, Dahlia?”
“Lho, malah kamu nggak ingat Mawar, Dara kan ultah, kemarin tanggal 11.”
“Yaa Rabb, aku lupa, beneran aku gk inget sama sekali.”
“Malah seneng lah, lupa, udah gk usah di bahas…”
“Mawar, Yasmin, kita kan sayang dia, kenapa kalian tiba-tiba jadi gini?”
“Sayang? Kamu aja tuh, aku gk.”
Klik. Panggilan diakhiri. Sikap Dara memang telah membuat kita benar-benar emosi. Hanya saja aku berusaha mengimbangi keegoan ini, kalau tidak, dari dulu sudah tak ada lagi yang namanya “kita selamanya”.
Ponselku berdering di atas meja belajarku. Nomor tanpa nama. Tak biasa aku mengangkatnya, takut diteror orang. Tapi kali ini ku urungkan ketakutanku.
“Assalaamu’alaikum,,, Bisa bicara dengan Dahlia?”
Yaa Rabb, suara cowok, dan aku tak mengenalnya. Rasa takut semakin mengahantuiku.
“Iya, anda sedang bicara sama Dahlia.”
“Ini ada yang mau ngomong sama kamu.”
“Siapa?!”
“Assalaamu’alaikum, Ukhtyyy, ini aku Dara, kangen ukhtyyy,,,” Suaranya bahagia kegirangan.
Tes… Tak ku rasa, cairan hangat yang berusaha ku tahan, kini keluar tanpa permisi. Ini suara Dara, sahabatku. Aku masih mengingatnya persis.
“Dahlia, kamu mendengarku, kan.”
“E… Ehm… I… Iya… Dara,,, Aku merindukanmu, kita semua merindukanmu.”
“Iya aku juga kangen sama kalian semua, salam ya buat Mawar sama Yasmin, maaf aku gk bisa menelfonnya, ini juga aku pinjem ponsel temenku, gk usah di save y nomernya.”
“Iya Dara, selamat ulang tahun ya, buat tanggal 11 kemaren,,, Barakallah fii ‘umrik.”
“Makasih Dahlia, udah inget. Jadi pengen ketemu nih.”
“Kapan Dara pulang?”
“Nggak tau juga ya, padat banget jadwal di sini. Tapi y diusahakan bisa balik ke Jawa setahun sekali lah.”
“Lebaran besok, pulang ya, kita semua mengharapkan kedatanganmu.”
“Okelah, kalo bisa ku usahakan, tapi jangan terlalu berharap ya, takut gk bisa dateng.”
Suaranya diiringi gelak tawa yang selama ini ku rindukan. Dan di seberang, aku hanya bisa tersenyum getir, mendengar celotehnya.
“Dahlia, udah dulu ya, gk enak sama yg punya ponsel ini, aku lagi gk ada pulsa, maaf ya, jangan lupa salamku buat yang lain, miss kalian so much… Assalaamu’alaikum…”
“Wa’alaikumussalam.”
Suara itu sudah hilang. Padahal aku masih kangen. Hanya 5 menit. Padahal dulu, tiada waktu yang terlewati tanpa kebersamaan. Semudah itu Dara melupakan kenangan kita. Dari kita berempat, memang aku yang lebih dekat dengan Dara. Awalnya memang semua biasa, tapi sejak aku dan Dara mendapat beasiswa Bimbel ternama di pusat kota Surakarta, kita semakin dekat. Kenangan selama bimbel memang sangat membekas, karena mungkin itu merupakan akhir dari cerita kita di sekolah.
“Ambil kantong plastik itu ukhty, buat mengantongi sepatu kita.”Suara itu, adalah suara Dara. Ketika kita pulang Bimbel kehujanan.
“Kita singgah sholat ashar dulu ukhty, takutnya nanti sampe rumah waktunya sudah habis.”Itu adalah ajakan Dara ketika kita pulang Bimbel melewati masjid dan kita belum sholat ashar.
“Ukhty, besok main ke rumah ya, ditunggu sama Ibu.” Kita memang sudah sering bermalam di rumah masing-masing dari kita. Ibu kita pun mengetahui kedekatan kita. Bahkan, mereka menganggap kita seperti anak sendiri.
Dan kini, aku merindukan semua itu. Secepat itukah Dara melupakan semuanya. Hari ini, aku berada di bilik masjid. Tepat di sudut di mana dulu aku dan Dara selalu melakukan jama’ah sholat ashar selepas Bimbel. Aku masih mengingatnya persis. Senyumnya, tingkahnya, caranya memakai mukena, anggun. Dulu semua orang memuji keanggunannya yang kini sedang mulai memudar.
Ku lemparkan pandanganku ke sekitar masjid. 11 bulan aku tidak lagi menginjakkan kaki di masjid yang menjadi persinggahan setia kita sepulang bimbel. Hampir setahun, aku tidak lagi melakukan sholat ashar berjama’ah dengan sahabatku, Dara. Dan masjid ini, tidak banyak berubah. Hanya warna catnya yang bertambah terang. Mungkin habis diperbarui menjelang lebaran yang kurang 2 mingguan. Sedangkan aku dan Dara, bahkan kita berempat, terlihat ada perubahan di antara kita. Akankah persahabatan kita kalah dengan kekokohan masjid yang sedang menaungiku saat ini? Bukankah dulu kita pernah berjanji, jika persahabatan kita tidak seperti pelangi, indah, namun kemudian menghilang karena datangnya cahaya. Bukankah kita akan menunjukkan pada dunia, jika persahabatan kita tak akan goyah hanya karena waktu yang memisahkan dan jarak yang terbentang.
Kertas di tanganku ini, akan mewakili perasaanku, perasaan seorang sahabat yang sedang merindukan sosok yang dulu pernah dikenal indah, dan sekarang mulai menjauhkan diri dengan kehidupan masa lalu yang pernah berjuang bersamanya.

Teruntuk Dara-ku
Mujahidah Allah yang sedang Berjuang
Di Pulau Seberang

Assalaamu’alaikum…
Dara,,, aku merindukanmu…
Masih ingatkah dirimu dengan aku, dengan kita, sahabat masa lalu yang menemani perjuanganmu dan mungkin yang mengantarkan kesuksesanmu pula ke pulau yang kau singgahi saat ini. Dirimu yang dikenal anggun, bukan hanya oleh kita, tapi oleh semua kalangan, caramu bicara, berjalan, tersenyum, semua membuat orang terbius. Dan obat bius itu, kini mulai tidak berefek samping lagi. Aku merindukan itu semua.
Secepat itukah kamu melupakan semua tentang kita, Dara. Saat ini, aku sedang duduk manis di masjid Baiturrahman. Masjid tempat persinggahan setia kita sepulang dari bimbel. Saat ini aku sedang bertopang dagu persis di sudut tempat kita sering melakukan sholat jama’ah dulu. Aku tak pernah menyangka akan cepatnya perubahan sikapmu. Tapi kabar yang terus simpang siur dan berbagai postingan di akun facebookmu membuatku benar-benar yakin bahwa dirimu telah berubah. Aku masih sabar menunggumu di sini. Di Surakarta. Tempat kita mulai melangkah membangun asa. Aku pun sedang berusaha meyakinkan Mawar dan Yasmin bahwa kamu di sana baik-baik saja, tetap seperti Dara yang dulu kita kenal.
Bukan sok, tapi sekedar mengingatkan. Jika dirimu bertemu banyak orang yang menjadi temanmu saat kau sukses, jangan pernah lupakan orang-orang yang pernah berjuang bersamamu di masa lalu. Aku tau dirimu telah selangkah lebih sukses dari kita. IPS mu telah menjanjikan impian yang selama ini kau angankan. Tapi bukan itu yang kita inginkan. Bukankah kita semua berharap perbedaan itu akan berubah menjadi Rahmat?
Ini ada pesan dari Yasmin buat kamu…
Aku memang mengenalkan persahabatan pada kalian di atas nama perbedaan karena aku tau perbedaan itu bisa disatukan. Dari dulu aku juga tau kita semua berbeda. Bukan hanya kamu atau aku. Tapi kita. Dan ternyata 6 tahun bersama, kita bisa berdiri tegak di antara sejuta perbedaan. Iri. Aku juga pernah merasakannya. Kita bertiga memang selalu sama tapi tidak untuk dirimu. Dan mungkin irimu itu wajar, menurutku. Aku hanya ingin kau tau, saat ini perbedaan kita adalah ujian yang menjadi tolak ukur seberapa kuat persahabatan. Kadang aku merasa bersalah, mengapa aku membiarkanmu menjauh dan merasa berbeda di antara kita. Namun, aku tak bisa melarangmu memilih jalanmu. Maafkan aku yang membuatmu merasa berbeda, merasa terkucilkan, dan hanya selalu diam. Namun, aku tak pernah mengharap kediamanmu. Yang aku ingin adalah senyuman. Senyum ceria setulus dulu. Selamanya kita memang akan selalu berbeda. Tapi selamanya pula kita tetap sahabat. Bersama meraih mimpi, berdiri di atas perbedaan, dan berpegang pada persahabatan.
Dara, salam dari Mawar untukmu. Pulanglah. Lebaran depan kita jalan bareng. Setahun sudah kita tak bersua. Berharap keluangan waktumu untuk memutar sedikit rekaman video yang dulu pernah tercipta.
Sekian dulu dariku. Maaf aku terlalu lancang mengirim bait-bait kata tak bernyawa ini. Hanya demi mengharap akan perubahan sikapmu pada yang terbaik. Sukses buat kita semua. Kamu dengan Geografimu. Yasmin dengan Matematikanya. Mawar dengan hafalan qur’annya. Dan aku dengan Kimiaku.
 Tahun 2018 kita bertemu bersama di hari di mana topi bertali itu bertengger manis sebagai mahkota kita. Dan 2016 depan, kita akan meluncur pada wisuda tahfidzul qur’annya Yasmin. Kita menunggumu di Surakarta. Salam sayang dan sukses selalu.

Bangka Belitung, 14 Mei 2015
            Tertanda,
                                   
          Dahlia Putri Sekar
Aku yakin suratku sudah berada di pelukan Dara. Tapi pada hari ke 29 setelah diterbangkannya suratku itu, tak ada segores tinta pun sebagai balasan akan jawabannya. Dan hari ini, aku sedang melakukan perjalanan menuju alun-alun kota Surakarta. Berusaha meyakinkan diri siapapun yang nantinya benar-benar datang, kita tetap jalan, meskipun jumlah kita dianggap kurang. Cemas? Iya. Tapi aku berusaha tetap tenang. Aku sudah janjian dengan Yasmin. Dan saat ini aku sedang berada di belakangnya di atas sebuah motor Beet warna biru kesukaannya. Di ujung alun-alun, ku dengar jeritan halus yang berbaur dengan kebisingan suara kendaraan di pusat kota. “Uktyyy aku sudah menunggumu di sini, di alun-alun kota Surakarta”. Dengan diiringi lambaian tangan serta seberkas senyum manis dari seorang Mawar di sampingnya. Subhanallah, tangisku pecah mengetahui bahwa suara itu adalah milik Dara. Ku hamburkan pelukanku seketika saat Beet biru sudah mendarat di depannya persis. Tak bisa ku tahan air mata bahagia yang menyatukan kita hari ini. Di Surakarta, 24 Juli 2015. Dan saat inilah perbedaan itu sudah tak tampak adanya. Yaa Rabb, sungguh agung karunia-Mu.
Jombang, 5 September 2015


[1] Ukhty: Sebutan untuk “Kakak perempuan” dalam Bahasa arab.
[2] Husnudzan: Berbaik sangka.

SERPIHAN DO'A DI PUNCAK BROMO



SERPIHAN DO'A DI PUNCAK BROMO

Rintikan hujan tiada hentinya menutupi tirai alam. Guyuran air rahmat itu terus berdentang menjatuhi atap rumah hingga terdengar membisingkan. Tak tahu kenapa, kota tempat aku singgah yang terkenal dengan polusi dan suhu panasnya, belakangan ini hampir menyaingi Bogor, kota hujan. Rasanya, mulai tumbuh bibit-bibit kerinduanku pada sang mentari. Mentari yang sering menghiburku dengan kemilau sinarnya yang mungkin justru dihindari oleh setiap manusia, terutama mereka yang berwujud remaja. Aku pun heran. Ke mana mentari itu menghilang, ataukah hanya sekedar bersembunyi, tapi di mana juga. Tak ku temukan sedikit pun jejaknya di setiap penantianku, di ujung fajar. Kadang pernah sesekali ku pergoki setitik cahayanya yang menembus jendela kamarku, tapi itu hanya setitik yang ku harap mampu berkembang menyinari cakrawala tapi justru setelah itu hilang, mengecewakan. Kini, hati dan perasaan serta fikiranku mulai berkolaborasi untuk mendoktrin semua karena mentari. Karena ia bersembunyi, jemuran kami tak ada yang mau mengering, terus mengembun dan baru beberapa hari kemudian agak terasa sudah tidak basah, namun itu pun menghalau hadirnya bau tak sedap. Karena mentari pula yang menghilang dari kehidupan, kami harus berpenampilan kusut saat berangkat kuliah, bahkan tak jarang kami terjebak tak bisa pulang menunggu sekian lama dan hanya mampu berharap hujan segera berlalu.
Suasana seperti itulah yang kini menyelimuti setiap celah kehidupan. Hingga membuat diriku pribadi, merasa bosan bila harus menanti dan menanti untuk sekedar melangkah beraktifitas ketika hujan benar-benar mengguyur tempat ku singgah.
Aku adalah anak kost yang tengah menempuh studi jenjang kuliah semester 3 di fakultas hukum. Meski di sini sudah semester 3, aku tergolong masih asing dengan suasana sekitar. Entah kenapa hatiku belum bisa menyatu dengan kehidupan ini, kehidupan baru yang telah ku jalani sekitar setahun lebih 3 bulan ini. Mungkin karena di sini bukan tempat pilihanku ataukah keramaian yang membuatku selalu merasa bising dan sulit menemukan setitik ketenangan. Jika aku tergolong keras memberi dan membuat keputusan, begitulah sepantasnya. Karena mereka di luar sana pun sudah tak asing bahwa seperti itulah memang karakteristik anak hukum. Tapi, setidaknya aku selalu membutuhkan untaian ketenangan untuk sejenak merefresh tumpukan problema yang membuatku berhati kalut, karena tak ku temukan ketenangan itu di tengah kebisingan kota ini.
Tepat di menit ke 25 ini, fikiranku mulai kacau. Ya, aku telah mematung di sini, di depan kantor fakultas, menunggu rintikan hujan itu segera berhenti agar aku bisa melangkah ke kostan yang memang tak jauh tapi mungkin akan membasahi sekujur tubuhku jika aku menerjangnya. Kekacauan itu berawal dari kata “UAS” yang terlintas sejenak di benakku. Ya, sepuluh hari lagi aku menjalani UAS semester ini. Dan sangat tak mungkin bagiku dituntut dengan jutaan soal yang menyebalkan jika perasaanku masih belum disinggahi ketenangan. Mendaki. Kata itu yang selanjutnya mengiringi keputusanku. Aku benar-benar ingin melakukan pendakian, entah di gunung mana. Intinya aku harus tetap mendaki. Jika ini dibilang pendakian perdana, memang iya. Karenanya, wajar bila ketakutan dan keraguan hadir menghantui jiwaku. Tapi obor semangat yang ku miliki mampu mematikan percikan  kelemahan yang hampir membuatku menyerah.
Satu hal yang paling ku benci, belum ada satu pun pihak yang mengiyakan keputusanku saat aku meminta ijin. Termasuk Ayah dan Ibuku di sana yang ku minta ijin lewat telfon serta Ibu kostku yang ku nilai agak killer. Begitu pula teman-temanku. Hanya ada tujuh orang yang setuju dengan planningku. Dan yang lain hanya melontarkan celoteh berupa ejekan yang menandakan ketidak setujuannya.
Di puncak klimaks kekacauan fikiranku, semua membaur menjadi satu. Antara takut, menyerah, gagal, dan ragu. Bahkan suasana malam ini pun seakan turut tidak mendukung keinginanku dalam pendakian. Purnama tiada menunjukkan keelokannya meski malam ini tepat tanggal 15 dan tanpa ku sadari derai tetes hujan itu kembali terjun saat ku rasa ia membasahi ujung hidungku. Fenomena ini membuatku terusir dari lamunan di teras kostan. Jujur, memang ku sadari aku paling tidak suka dengan kedinginan. Dan mungkin itulah satu-satunya argumen yang mereka angkat untuk tidak mengijinkanku pergi. Bagi mereka aku adalah manusia panas. Selalu merasa dingin di suhu sepanas apa pun. Apa jadinya nanti saat pendakian, saat kabut tebal menghalangi pandangan, saat rintikan embun membasahi segalanya, dan saat cuaca buruk menahan kaki untuk tetap melangkah. Ah, entahlah. Aku semakin bingung. Langkahku gontai menuju tempat tidur, ingin segera ku melepas lelah dengan bergelut sama makhluk-makhluk kapuk bernama bantal. Besok aku tetap harus pergi, gumamku dalam hati yang selanjutnya membuat katup mataku mulai tenggelam.
Fajar belum menyingsing, tapi hembusan angin yang menelisik ventilasi kamarku membuatku terjaga. Dingin. Dingin sekali. Tak ada yang mampu ku lakukan dalam kedinginan selain menangis dan berusaha mencari kehangatan. Dan saat seperti inilah aku terlihat sangat lemah, seakan membutuhkan seseorang di sampingku tapi kenyataannya aku hanya sendiri di kamar ini. Rencana pendakian itu kembali menghantui setiap sudut fikiranku. Aku takut. Ya, jiwaku telah terkalahkan dengan ketakutan itu. Aku tak yakin tetap pergi tanpa ijin dari mereka semua. Ku raih handphone di ujung meja. Ku hubungi Ayah dan Ibuku di sana. Sekali lagi yang ku bahas adalah permohonan ijin perihal rencana pendakianku, dan ternyata mereka benar-benar mengiyakanku tentunya dengan diiringi jutaan nasihat sebagai bekal untuk ku pergi. Berakhirnya telfonku dengan Ayah dan Ibu sekaligus berakhir pula dingin yang menyelimuti sekujur tubuhku. Semangatku kembali membuncah saat restu Ayah Ibu mengiringi kepergianku. Soal Ibu kost, biarlah. Yang penting aku berniat baik, ingin mencari ketenangan demi kenyamanan ujian sekaligus bertafakkur pada ciptaan Tuhan.
Ku hubungi ke tujuh temanku bahwa hari ini juga kita akan segera berangkat menuju puncak itu. Tak lagi mampu ku menunda planning ini, melihat ujian pun tinggal menghitung hari. Kami berangkat dengan jeep dengan muatan 6 cewek serta seorang cowok sebagai sopir sekaligus pendamping kami. Alam seakan sangat bersahabat. Hujan yang selama ini sempat menguasai jatah mentari, kini ia mampu tersingkirkan dengan pancaran senyum mentari yang seakan sangat merestui jurney ini. Bromo... I’m coming... Lirihku dalam hati.
Udara dingin semakin menelisik di setiap pori-pori kulit. Suasana malam yang semakin mencekam membuat batinku seakan tergoyah. Tapi aku masih sadar. Aku harus menang dengan dingin ini. Ya, malam ini, tepat pukul 11 lebih 50 menit kami sampai di kawasan wisata gunung Bromo. Gemuruh detak jantungku semakin menggelegar saat perasaan senang ini tiba-tiba dikejutkan oleh gonggongan anjing di sana sini. Namun, rasa khawatir akan keberadaan anjing di sekitar akhirnya berhasil ku tepis saat kantuk benar-benar  mengharuskan katup mataku menutup. Bukan keinginan tapi memang tuntutan. Bagaimana tidak, sepanjang perjalanan tak satupun dari kami mampu tertidur menikmati kenyamanan perjalanan. Justru ketegangan yang menghiasi perjalanan ini karena jalanan yang penuh tanjakan dan tikungan serta kedalaman jurang yang mengiringi sepanjang jalan itu. Di dukung suasana malam yang semakin kelam membuat kami semakin diliputi perasaan takut, gundah, gelisah, dan semuanya. Apalagi sempat terlintas di sebelah jeep kami, bus kosang. Entah memang benar atau hanya halusinasi dari kami yang membuat bibir ini terus komat kamit membaca berbagai jenis do’a dan sholawat.
Mata menutup tapi tubuh masih terus bergerak-gerak layaknya ikan lele, antara hidup dan mati. Dinginnya mengalahkan berbagai jenis atribut. Topi, syall, jaket tebal, sarung tangan, kaos kaki, semua terasa tak mampu menghalau dinginnya malam di kawasan Bromo ini. Hingga membuat tidur pun miris dan memaksa kami untuk bangun sebelum fajar benar-benar menyingsing. Sekalian menanti adzan shubuh, segelas pop mie dan secangkir kopi menemani kedinginan kami. Tapi ternyata adzan shubuh tak kunjung berkumandang. Baru ku tersadar bila di sini, di kawasan Bromo ini adalah mayoritas mereka dari suku tengger. Pantas saja jutaan anjing berkeliaran. Bahkan untuk menuju mushollah pun kami harus berjalan kurang lebih 100 meter, itu pun masih ada jarak agak jauh antara tempat wudlu dan mushollah. Huft, melelahkan. Mau sholat saja repot sekali. Tapi seru juga saat kita berhasil mengelabuhi anjing-anjing menakutkan yang tak ku tahu sedang apa di lapangan dekat mushollah.
Acara inti akan segera berlangsung. Ya, tepat setelah menghadap Sang Pencipta alam di waktu shubuh, kami akan langsung tancap kaki menuju puncak. Kabut tebal menyelimuti alam perjalanan kami. Aku sempat sempoyongan saat pandanganku berkunang-kunang dengan pengaturan nafas yang tak lancar karena bertahan bersama kedinginan di atas rata-rata. Fikirku pun melayang, mulai kacau dengan hadirnya berbagai perkataan mereka di sana yang mencibirku bahwa aku tak kan mampu mencapai puncak. Hingga membuatku berjalan agak jauh terpisah dengan teman-teman. Ku sandarkan diriku sejenak di balik batuan besar dan kembali tersadar saat teman-teman akhirnya menghampiriku, dan itulah yang ku harapkan. Aku dipeluk. Kehangatan mulai menjalar dan tawa lepas akhirnya mampu mencairkan ketegangan kami saat kami sadar bila nafas kami menguap, layaknya berada di daratan Eropa, menyenangkan.
     ... SUBHANALLAH ...
Tuhan.. Negeri ini sangat indah, bantu kami untuk bisa menjaga dan melestarikannya.

Terkagum menyaksikan panorama yang biasanya hanya mampu kami lihat di layar televisi atau sekedar di internet dan berbagai gambar di buku bacaan tapi saat ini benar-benar berada di depan mata. Sungguh besar kuasa-Mu, Yaa Rabb. Tak terasa perjalanan yang penuh halang rintang itu mulai membawa hasil. Mulai kabut tebal yang menutup pandangan, angin yang terus berhembus kencang, hingga bau butiran belerang yang melayang-layang. Dan kini, kami bertujuh, termasuk aku, gadis yang mereka bilang tak kan mampu melawan suhu di atas rata-rata tapi saat ini sejarah telah mencatat bahwa aku dan ke tujuh sahabatku benar-benar berada di puncak Bromo. Bukan seberapa memang, tapi merupakan suatu kebanggaan bagi yang mampu mewujudkannya. Tak mudah menjalani, mereka yang mencibir pun belum tentu mampu melalui. Dan pagi ini pula, kami menyaksikan mentari akhir tahun, matahari 24 Desember. Teringat wajah mereka di sana, hatiku berbisik, hai kalian... terbukti aku bukan yang lemah, setidaknya aku mampu selangkah lebih tinggi dari kalian, justru kalian yang tergolong pecundang hanya mampu berucap di balik tembok kokohnya kelemahan yang kalian miliki... satu ucapanku buat kalian “Kalian semua dapat salam dari Indonesia.”
Tak mampu berucap saat kaki kami benar-benar menancap di puncak. Jutaan kata menari-nari dalam fikiran, seakan ikut tersenyum bersama butiran air mata yang mengiringi haru dalam bahagiaku. Serasa mimpi tapi ini memang terjadi.
Tuhan...
Terima kasih atas limpahan Rahmat-Mu yang terus mengiringi langkah kami.
Terima kasih atas iringan Ridlo-Mu yang terus menghiasi setiap denyut nadi kami.
Dan terima kasih pula atas Karunia Inayah-Mu yang menyelimuti hembusan nafas kami.
Pagi ini, ku rangkaikan do’a di atas keindahan ciptaan-Mu
Ijinkan kami merajut kebahagiaan bersama orang-orang yang kami sayang
Meski saat ini kita jauh terbentang jarak terhalang waktu
Kami akan kembali di pangkuan mereka
membawa segenggam asa yang selama ini hanya berwujud imajinasi
suatu hari nanti kami akan mengalahkan waktu
yang saat ini sangat berkhianat pada pengorbanan yang kami jalani
di tanah rantau yang kami singgahi
aku yakin
aku percaya
aku bisa karena aku berusaha
dan aku bisa karena Engkau ada
demi orang-orang yang kami sayang
Restui perjungan yang kami jalani ini
Berubah wujud menjadi kesuksesan hakiki nantinya, Yaa Rabb...

Ada suatu histori di kawasan Bromo, di sebuah tangga keberuntungan. Barang siapa mampu melalui tangga tersebut dengan hitungan sama saat naik dan turun, maka diprediksikan ia adalah orang hebat yang mampu mewujudkan kesuksesan. 242. Angka cantik yang menjadi milikku saat naik dan turun. Tak ku sangka aku mampu mewujudkan kesamaan angka itu meski di tengah perjalanan naik aku sempat tak mampu melangkah, capek. Tapi ku ingat dengan iming-iming di puncak sana. Akhirnya aku mampu. Ku harap ini adalah serpihan jawaban dari untaian bait do’aku yang membuat kesuksesan itu berpihak padaku di masa depan nanti. Dan senangnya lagi, saat ku tahu bahwa hanya diriku seorang yang mampu menemukan kesamaan angka itu. Ku peluk semua sahabatku, biar sejarah yang mencatat kebahagiaan kita di sini dan Tuhan yang mewujudkan asa yang belum menjadi milik kita seutuhnya saat ini.
Takdir adalah catatan soal yang harus dikerjakan.
Begitu para pujangga mengatakannya. Kita memang punya takdir. Dan semuanya akan terjadi tinggal bagaimana kita mampu mengolahnya. Takdir memang ada yang murni dari Sang Khaliq tapi di sisi lain kita diberi kewenangan pada seutas takdir di mana ketidak nyamanannya mampu kita atur dengan do’a dan ikhtiar yang kita jalani.
Jangan pernah lengah hanya dengan cibiran manusia-manusia bodoh tanpa dosa. Mereka hanya mampu bersembunyi di balik kerapuhan jiwa yang tiga ratus enam puluh darajat jauh lebih buruk dari jiwa juang yang kita miliki. Terkadang kita terlihat bodoh saat harus meluangkan waktu hanya untuk meladeni sikap mereka. Dan kita tak pernah sadar akan itu. Sekali lagi, jangan pernah takut melangkah. Biarkan anjing menggonggong, tapi kita tetap berlalu. Ingat, kita punya Allah yang lebih dekat dari urat nadi.

                                                                                                          H. NOER. SH
Jombang, 16 Januari 2015

Selasa, 17 Januari 2017

Jangan Hilangkan Dia

Aku berjalan sendiri kini
Menemukanmu dalam sepi suram
Entah apa yang harus kulakukan
Kata dan genggaman tangan kini tak lagi bisa

Menjauh dari semua keramaian
Maafkan bila hati tak sempurna,
Karna aku tak bisa
Menjagamu dari kedekatan seperti lalu
Hanya untaian doa malamku untukmu sang malaikat tanpa sayap milikku

Apalah dayaku yang bisa menjauh
Tanpa pernah bisa berkata maaf
Terdiam diantara bulir hujan
Membiarkannya membasahi tubuh ini
Membuatku meronta di keadaan ini
Menangis dalam diam dan sakit

Akulah sang pejuang
Yang ingin memperjuangkan
KAMU